Selasa, 09 April 2013

Cerita di Balik Lubang Tambang Mbah Suro


Cerita di Balik Lubang Tambang Mbah Suro

PadangKini.com | Minggu, 21/12/2008, 19:07 WIB
Oleh: Febrianti/PadangKini.com
SIRINE perusahaan pertambangan batubara PTBA meraung dengan keras memecah pagi yang dingin pukul 06.30 WIB, membuat saya terjaga dari tidur yang lelap. Saya bergegas ke beranda, membayangkan melihat buruh tambang batubara dengan seragamnya  berbondong berangkat kerja. 
Namun bayangan saya keliru, sirinei itu telah lama diabaikan. Seperti juga kota Sawahlunto yang ditinggalkan hampir sebagian besar penambang enam tahun lalu. 
Ribuan pekerja tambang terkena pensiun dini saat cadangan 'tambang luar' batubara Sawahlunto makin menipis. Padahal dulunya Sawahlunto dibangun di pengujung abad ke-19 karena batubaranya yang ditemukan Hendrik De Greve.
Guest House tempat saya bermalam adalah bagian dari Hotel Ombilin, dulunya rumah  petinggi Belanda yang dibangung 1918. Tegel keramiknya masih bagus dengan corak geometris. Kamarnya luas dengan loteng yang tinggi sehingga udara tetap sejuk. 
Setelah sarapan, saya dan dua teman seperjalanan Agnes Rita dan Youngster sepakat jalan kaki keliling kota. Setelah itu baru mengikuti Festival Makan Bajamba yang diadakan pemerintah untuk memperingati hari jadi kota ini yang ke-120. 
Jalan dalam kota amat bersih, tidak ada puntung rokok dan sampah yang dibuang sembarangan. Bahkan fasilitas publik seperti kursi di letakkan di tempat yang memungkinkan warga untuk  beristirahat sambil menikmati kota. 
Kota ini unik, karena seperti kuali raksasa, jadi cukup dengan jalan kaki, kita sudah bisa keliling kota tanpa takut tersesat. 
Setelah melewati gedung-gedung tua, kami sampai ke destinasi Lubang Tambang Mbah Suro yang dipugar tahun lalu. 
Ini lubang tambang pertama di Sawahlunto dibangun 1896 oleh 'orang rantai' yang dipimpin Mbah Suro. Panjang lubang ini mencapai ratusan meter, tetapi baru 186  meter yang dipugar, dibersihkan dan diberi blower udara untuk menambah oksigen serta dilengkapi kamera pengintai (CCTV) yang bisa dipantau petugas di Gedung Info Box.
Hari masih pagi, tipis harapan untuk dapat masuk ke lubang tambang karena belum terlihat petugas jaga. 
Tapi saat melogok di pintu masuk lubang tambang, tiba-tiba ada suara memanggil. 
"Sini, kalau mau masuk," teriak pria yang ternyata Pak Win, 'juru kunci' lubang tambang. 
Ia sedang menyapu tangga dan lorong dalam lubang tambang. 
Kesempatan baik, kami masuk menuruni tangga dan langsung disergap hawa dingin bawah tanah. 
Cerita Seram Pak Win 
Pak Win, penjaga tempat ini dulunya supir truk pengangkut batubara di PTBA UPO dan terkena pensiun dini. Ia memimpin proyek pembukaan lubang tambang dan akhirnya menjadi 'juru kunci'. 
Lebar lubang tambang ini 2 meter dan ketinggiannya 2 meter. Dulu lorong ini untuk mengangkut batubara dari lokasi penambangan di bawah kota Sawahlunto. Lorong ini bahkan  bisa tembus hingga Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang kini menjadi Masjid Raya yang berjarak 900 meter, namun baru dipugar 186 meter dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah. 
Menurut Pak Win, pemugaran dilakukan 22 hari, membersihkan lumpur serta memompa air yang amat banyak, lalu membuat aliran air dan paving blok untuk dasar lantai. Dinding lubang tambang sebagian besar batubara kualitas super dan sebagian lagi bata. Air masih menetes dari celah dinding batubara dan membasahi kepala. 
"Boleh motret ya, Pak," kata saya setengah berharap.
Maklum, saat kedatangan pertama dulu dilarang bawa kamera dan telepon seluler karena takut memicu ledakan gas metana. Peringatan ini juga ditempelkan di dinding. 
"Boleh, boleh, ini kan di luar jam kerja," kata PakWin setengah bercanda. 
Sebuah kesempatan lagi, kami sigap memoret sambil ngobrol dengan Pak Win.  Pak Win berhenti di dekat cekungan dinding terowongan. 
"Saat membuka lubang ini dulu semua yang ditemukan harus diserahkan ke museum, di tempat ini kami menemukan tulang paha manusia, dan kemudian diserahkan, malamnya, mulai dari Kepala Museum Rika Cheris, saya dan pekerja lain kedatangan mimpi yang sama, orang rantai yang meminta tulangnya dikuburkan secara Islam di pekuburan orang rantai di atas bukit," kata Pak Win. 
Hi...seram juga mendengar ceritanya. 
"Mau lanjut ?" tantang Pak Win tersenyum senang karena sudah menakuti kami. 
Kami terus lanjut hingga ke ujung lorong. Di sebelah kiri lorong masih ada lorong  lain yang belum dipugar karena kekurangan dana. 
"Di bawah sana saya ketemu ruangan yang besar, banyak botol anggur buatan Belanda, mungkin dulunya bekas tempat peristirahatan orang Belanda yang menjadi mandor orang rantai," kata Pak Win. 
Lorong lubang Mbah Suro ini berakhir di seberang jalan raya. Lepas dari lubang tambang, kami mengunjungi Museum Gudang Ransum. Jejak ‘orang rantai' jelas terbaca di sini. Mulai dari foto-foto, bekas rantai yang merantai kaki dan tangan serta batu nisan tanpa nama dan hanya diberi penomeran.Orang rantai adalah ribuan pekerjanya didatangkan dari Jawa dan daerah lainnya.
Sebagian besar kuli paksa ini berasal dari narapidana sejumlah penjara dengan kaki terantai. Karena itu mereka disebut ‘orang rantai'. Orang rantai ini yang membangun jalur kereta api. Kemudian mereka dijadikan buruh tambang. 
Makan Bajamba dan Pameran Batik 
Tiba-tiba terdengar gendang dan saluang khas Minang yang memudarkan kenangan tentang orang rantai. Kami bergegas pergi karena tak ingin ketinggalan momen memotret barisan panjang bundo kanduang yang membawa jamba (talam) di atas kepalanya untuk mengikuti acara makan bajamba di Pasar Remaja. 
Ternyata di jalan raya sudah berdatangan ibu-ibu dengan pakaian adat minang membawa jamba serta didampingi  datuk-datuk dari berbagai penjuru negeri. Pesta makan dimulai dengan meriah. Ratusan hidangan masakan Minang tersaji setelah penutup  jamba dibuka. Pesta makan ini diikuti ribuan orang. 
Saya kebagian makan jamba berisi masakan khas Talawi, negerinya Muhamad Yamin. Ada rendang belut yang dicampur daun surian. Rasanya enak, walaupun warnanya hitam. 
Usai makan, kami kembali jalan. Ingin melihat pameran lukisan Sarkasi Said pelukis batik asal Singapura yang dijuluki 'The Baron of  Batik' di Gedung Kebudayaan. Uniknya, khusus untuk hari jadi Sawahlunto ini Sarkasi menciptakan lukisan batik arang yang diinspirasi dari batubara di Sawahlunto dengan warna hitam putih. 
Pameran lukisan batik Sarkais Said ini adalah kejutan yang menyenangkan bagi warga kota kecil seperti Sawahlunto. Walaupun tidak banyak yang tahu artinya, tapi mereka tampak menikmatinya. 
Tema lukisan batik arang ini adalah ‘Spirit of Sawahlunto'. Salah satu lukisan diberi judul ‘Moon Above Sawahlunto'. Menurut Sarkasi seluruh lukisan ini diilhami setelah empat kali kunjungannya ke Sawahlunto sejak 2006 lalu. 
Sejak mengenal Sawahlunto, Sarkasi  telah menghasilkan lebih 100 lukisan batik arang. Ia mengaku jatuh cinta pada Sawahlunto. 
"Cinta saya pada tempat ini sudah ada," kata pelukis berdarah Jawa itu. 
Sawahlunto memang gampang disukai bagi penikmat wisatawan kota tua. Salah satunya Nikmad Muhama, turis yang datang dari Malaka. 
"Sawahlunto adalah satu kota yang unik, saya yakin satu hari nanti Sawahlunto akan jadi kawasan pelancongan yang terkenal di dunia," katanya. 
Untuk melengkapi wisata kota tambang, Wali Kota Sawahlunto Amran Nur baru saja mendapatkan kembali lokomotif uap tipe E1060 dari Ambarawa yang dulunya berasal dari Sawahlunto.
Ia mengatakan, kereta api uap ini akan menjadi ikon pariwisata baru di Sawahlunto karena akan melengkapi wisata tambang dan wisata kota tua.
"Akan kita buat perjalanan dengan lokouap ini melewati terowongan di Muaro Kalaban sepanjang 900 meter yang tak terlupakan oleh turis, muka mereka akan penuh jelaga uap saat keluar, ini sensasi yang dicari turis asing," kata Amran.
Kalau sudah begitu, siapa yang tidak jatuh cinta pada Sawahlunto?** 

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates